Instrumen Dasar Pendidikan CM: Atmosfer

Instrumen pendidikan ini dibahas dalam buku Charlotte Mason (CM) Volume 6.

Sebelum mengetahui apa itu instrumen CM, mari kita cari tahu dulu apa saja harapan kita terhadap anak. Saya pribadi berharap anak menjadi:

  1. Percaya diri
  2. Berprestasi
  3. Sekolah tinggi di luar negri
  4. Disayangi banyak orang
  5. Sopan
  6. Selamat dunia akhirat

Saya lalu bertanya pada Laras untuk kroscek jawaban tadi. Laras kebetulan sedang duduk menemani saya belajar metode CM.

“Ras, Laras berharap ingin menjadi apa?”

Aku ingin menjadi pahlawan” kata Laras.

Wow ternyata berbeza yah Bun antara harapan anak dengan harapan orang tua. Kalau saja saya jeli, sebenarnya sering sekali Laras menunjukkan ciri-ciri ingin menjadi “pahlawan”. Ia gemar berlatih martial art, gemar sekali main samsak di rumah. Ia juga mengagumi neneknya yang pernah menjadi Atlet Silat Provinsi Jawa Timur.

~~~

Sebagaimana teori yang umum diketahui, anak adalah peniru ulung. Children see, children do. Anak mencerminkan siapa kita. (BENER BGT HUHU). Ternyata kalau kita berharap dari A sampai Z kepada anak, kita berkewajiban untuk mencontohkan hal yang serupa.

Selama ini apakah orang tua sudah bisa mencontohkan apa saja yang diharapkannya terhadap anak? Apakah sebagai orang tua sudah sopan? Apakah orang tua sudah percaya diri? Ibu yang suka ngomel bahkan kadang sambil berteriak itu pertanda tidak percaya diri lho… 😦 Orang tua perlu menjadi seseorang yang ia harapkan pada anak.

Menurut Buku CM Volume 6, instrumen pendidikan anak antara lain:

  1. Atmosfer alamiah
  2. Disiplin terhadap kebiasaan baik
  3. Penyajian ide-ide hidup

Instrumen pendidikan nomor 1 adalah Atmosfer alamiah.

Sebaik-baik atmosfer adalah yang real, yang alami. Segala macam atmosfer buatan dinilai kurang bagus oleh CM. Contoh atmosfer buatan ini seperti:

– Menyatakan hal yang baik-baik saja

– Menampilkan kebaikan yang tidak alami

– Membuat sesuatu serba mudah, serba nikmat, serba seragam.

Menurut buku ini, anak harus disuguhkan dengan kondisi asli, tidak dibuat bagus atau indah atau menyenangkan sepenuhnya. Mengkanak-kanakkan kondisi lingkungan anak, dianggap sama seperti mengkerdilkan anak.

Perhatikan pendidikan anak, apakah orang tua dan guru telah menyusun skala prioritas yang benar? Apa prioritas utama dalam pendidikan? Jikalau ortu salah dalam menentukan ini, hal ini bisa dianggap menindas kepribadian anak. (Baiklah kalau begitu prioritas saya untuk Laras nomor 1 adalah “Budi pekerti/ norma kesopanan”). Hadirkanlah atmosfer ini dengan dibumbui rasa cinta pada anak.

Contoh kasus:

Apabila anak bermain dengan teman yang kurang sopan / bersikap buruk. Bagaimana respon orang tua? Melarang? Membiarkan?

Anak sebaiknya dipantau (dimonitor, diperhatikan, ditemani, diajak dialog) dan dididik supaya tidak ditipu teman. Relasi anak dengan teman, tetangga, keluarga merupakan modal kehidupan yang bagus karena lingkungan tersebut beragam.

Jika teman anak tidak baik, orang tua berperan untuk “mendetoks” yaitu mendampingi setelah anak selesai bermain. Ortu selalu harus melakukan briefing dan evaluasi. Ortu bisa saja tetap membiarkan anak bermain dengan teman yang “buruk”. Jika ortu melarang, hal itu berarti menjadikan lingkungan anak menjadi lingkungan yang artificial (semuanya baik-baik saja). Namun demikian, ortu juga harus menilai sejauh mana pengaruh buruk dari teman anak tersebut dan seberapa sanggup ortu untuk mendetoks. Apabila dirasakan membahayakan, ortu tetap punya otoritas untuk melarang anak berteman. Anak pun harus menunjukkan ketaatan (habit of obedience) terhadap aturan orang tua.

Ortu boleh menciptakan atmosfer untuk pendidikan anak, namun harus ingat hal berikut:

  • Hindari rekayasa
  • Hidup apa adanya
  • Hidup tidak selalu nyaman
  • Anak bisa paham kapan ortu stress
  • Paparkan anak dengan lingkungan alami, jangan biarkan ia hidup di “rumah kaca”
  • Ortu jangan over ekspektasi terhadap anak
  • Anak-anak kecil jangan diberi tanggung jawab, ortu jangan memberi peraturan yang terlalu ketat
  • Anak jangan dibebani dengan pilihan moral sebab anak belum selalu bisa membedakan baik dan buruk

Para praktisi Charlotte Mason pada umumnya memilih anaknya menjalani homeschooling. Di dalam keluarga misalnya, anak dihadapkan dengan kenyataan yang berbeda-beda. Terkadang seorang anak digoda kakaknya, dipuja adiknya, disuruh ikut aturan main ibunya, diajak bercanda oleh ayahnya, dipaksa mengalah oleh adiknya, bergaul dengan ART dan tukang. Ragam interaksi anak bersama keluarga, merupakan pendidikan bagi pribadi anak.

Adapun saya belum percaya diri untuk dapat mendidik anak secara mandiri di rumah. Saya masih memilih jalur sekolah formal.

Ketika kita (saya) mengirim anak ke sekolah, anak beberapa hal yang harus kita perhatikan:

  1. Apakah gurunya terlalu lembek? Atau terlalu cemas? Atau terlalu berambisi? (Yes/No)
  2. Pelajarannya dirasa encer (?) (Yes/No)
  3. Motivasinya semata-mata untuk mendapatkan peringkat? (Yes/No)
  4. Anak-anak kerap jengkel, tegang saat bersekolah? (Yes/No)
  5. Ada overstimulasi? (Yes/No)
  6. Pelajaran terlalu banyak? (Yes/No)
  7. Liburannya cukup? (Yes/No)
  8. Mental anak bagus? (Yes/No)

Sedangkan yang kita inginkan adalah:

– Anak belajar demi mendapatkan ilmu pengetahuan

– Anak bersikap tekun

– Hasrat ingin tahu dan hasrat belajar anak tinggi

Untuk mencapai hal tersebut, paparkanlah anak dengan lingkungan yang apa-adanya. Kenalkan anak dengan hal baik dan hal buruk. Apabila kita biarkan anak terpapar lingkungan yang tidak alami, dikhawatirkan anak bisa menjadi ringkih, tidak kuat menghadapi kegagalan, kurang berkembang, tidak berpengalaman untuk bangkit dari jatuh.

Dalam perkembangannya anak membutuhkan kebersamaan orang dewasa dalam membimbingnya. Sebagai orang tua, kita harus selalu belajar (bertumbuh). Kita dan keluarga (our support system) harus terlibat menemani aktivitas anak. Kita lakukan briefing dan evaluasi keseharian anak. Kita juga berikan contoh (tauladan) pada anak.

#SelfReminder

Fondasi Pendidikan Charlotte Mason (Part 2)

Untuk apa anak bersekolah?

Untuk apa kita mengirimkan anak ke sekolah?

Pada umumnya kita menjawab, supaya anak kelak mendapat ijasah. Ijasah merupakan modalnya supaya ia bisa bekerja, bisa mandiri menghidupi segala kebutuhan dirinya dan keluarganya. Menurut Charlotte Mason, adalah tujuan yang rendah jika kita hanya berharap anak dapat memenuhi kebutuhan materi atau biologis (makan, sandang, papan) saja, layaknya filsafat materalism dan utilitarianism. Semestinya sebagai orang tua kita bisa mengeset goal yang lebih tinggi dan lebih luhur. Sebab jika kita sekedar menginginkan anak kita untuk menjadi seseorang yang mampu bekerja, dengan segala kemampuan teknisnya, ia dapat mudah tergantikan saat ada orang lain dengan kemampuan teknis yang lebih baik.

Seperti yang diucapkan oleh seorang teman:

Pendidikan yang menghilangkan unsur-unsur manusiawi, hanya akan melahirkan pekerja-pekerja yang seperti mesin. Atau mungkin menjadi makhluk yang individualistik yang penuh keegoisan dan keserakahan. Yang tidak mengenal apa itu budi pekerti, apa itu peduli sesama, apa lagi untuk memahami makhluk hidup lain.

http://bundanisrina.blogspot.com/2021/04/refleksi-tentang-manusia-dan-pendidikan.html

Konsep pendidikan yang ditanamkan Charlotte Mason adalah membangun seorang manusia agar dapat menjadi semakin menusiawi melalui penguatan karakter! pembentukan mental!! kebijaksanaan spiritual!!! Anak harus dipandang secara spiritual. Anak mesti dipersiapkan supaya ia dapat menjalankan berbagai peran kelak: misalnya sebagai ibu, sebagai istri, sebagai wanita karir, sebagai anggota masyarakat. Apapun perannya di dalam kehidupan, ia dapat menjalankan dengan baik dan bijaksana, karena setiap anak adalah pribadi yang unik, pribadi yang berharga, berkarakter luhur, dan tidak tergantikan.

Konsep yang salah selama ini adalah Capitalism, Consumerism, Individualism, Meritocracy yaitu seseorang dianggap hanya jika ia memiliki prestasi, dan Utilitarianism yaitu seseorang dianggap hanya jika ia punya kuasa.

Charlotte Mason mengajarkan konsep Magnanimity, (Magnanimity is the virtue of being great of mind and heart. It encompasses, usually, a refusal to be petty, a willingness to face danger, \and actions for noble purposes. Its antithesis is pusillanimity. Wikipedia). Anak diharapkan tahu bagaimana caranya hidup, bisa berimajinasi, bisa menilai baik dan buruk sesuatu hal, tahu menempatkan diri, mampu meningkatkan kebahagiaan dirinya dan sesama.

Berikut saya kutip lagi dari blog seorang kawan:

Di buku CM, seri Philosophy of Education, makna Magnanimity, yaitu:

memiliki imajinasi yang berbudaya, kemampuan menilai dan menimbang yang terlatih, selalu siap menguasai kerumitan profesi apa pun, sementara pada saat yang sama tahu menempatkan dirinya sendiri dan bagaimana memanfaatkan segala kelebihannya untuk meningkatkan kebahagiannya, kebahagiaan sesamanya, dan kesejahteraan masyarakatnya – satu sosok yang bukan cuma bisa mencari nafkah hidup tapi tahu bagaimana caranya hidup.

https://padmanegara.com/2021/04/15/belajar-caranya-hidup-dan-tumbuh-bersama-anak-dengan-charlotte-mason/

Tugas orang tua adalah menentukan kembali kemana arah pendidikan anak kita?

Jawaban saya mungkin:

  • Agamis
  • Penuh rasa ingin tahu
  • Senang belajar
  • Fokus
  • Konsisten
  • Bahagia

Apakah cara yang dipilih orang tua sudah selaras dengan arah yang dituju? Ibarat berlayar, pendidikan anak harus mempersiapkan hal berikut:

  1. Destinasi: Apa tujuan pendidikan?
  2. Peta: Bagaimana paradigma atau cara pandang orang tua terhadap pendidikan dan pengasuhan?
  3. Kompas: prinsip-prinsip kehidupan yang sama-sama ditaati oleh orang tua dan anak

Sebagai orang tua, kita disarankan untuk banyak membaca, banyak mendapatkan input/masukan, banyak berdiskusi, dan apabila bisa, menulislah sebagai reminder untuk stay on track. Upayakanlah banyak hal demi mendapatkan keselarasan antara tujuan pendidikan dengan cara-cara yang akan ditempuh.

Fondasi filosofi pendidikan Charlotte Mason

Di bawah arahan Mba Ayu Primadini

Guru kita, Charlotte Mason, menerbitkan 6 buku.. Volume 1 s.d Volume 6. Bukunya yang ke empat berisikan tentang “mengenali diri, ourselves”, buku kelima tentang “Kasus-kasus seputar pemahaman karakter, formation of character” dan buku ke enam merupakan rangkuman seputar jantung pendidikan “Toward a Philosophy of Education“. Bila ingin mulai membaca buku Charlotte Mason, mulailah dari volume 6 ini.

Buku-buku Charlotte Mason disarikan atau diceritakan kembali oleh Mba Ellen Kristi dalam buku bahasa indonesia yang berjudul “Cinta yang Berpikir”.

Charlotte Mason tidak hanya menjadi guru untuk murid tetapi juga guru untuk para guru. Saat seseorang menemuinya untuk mendapatkan pengajaran, ia berkata: “My dearyou have come here to learn to live”. Jadi bukan hanya tentang bagaimana caranya menjadi guru, atau bagaimana menjadi parent.. tapi tentang bagaimana caranya hidup, itulah yang akan diajarkan oleh Charlotte Mason. Setelah mempelajari ini, harapan kita adalah supaya kelak kita pun dapat mempersiapkan anak supaya tahu bagaimana caranya hidup.

Cara pandang orang tua terhadap anak sangat mempengaruhi gaya parenting ortu. Anak yang dipuja bagai seorang angel (Child-centered), dapat tumbuh menjadi anak yang rapuh, sulit untuk survive, anti kritik. Ia menganggap dirinya pusat dunia. Lambat laun anak-anak seperti ini tumbuh menjadi orang yang self-centered, sulit hidup bermasyarakat.

Anak adalah titipan masyarakat dan titipan Tuhan. Children are born person. Anak merupakan seorang pribadi yang utuh. Ia sudah built-in, sudah sepaket utuh dengan kehendak, pikiran, dan perasaannya sendiri, dengan potensinya untuk berbuat baik dan berbuat buruk. Demikian pula orang tua, lahir sebagai “insan kamil”, pribadi yang utuh. Hal ini membuat anak dan orang tua harus sama-sama tunduk terhadap hukum universal, hukum kebenaran.

Anak yang dididik dalam gaya parenting masa lalu yang dinamakan “Parents-centered/Diktator” dengan ciri-ciri: kehendaknya tidak pernah didengarkan, emosinya tidak diakui, dan orang tua harus selalu ditaati tanpa diberi penjelasan apa alasan dibalik suatu kewajiban, dapat tumbuh menjadi anak yang mudah frustasi dan kurang percaya diri.

Jadi bagaimana kah seharusnya kita mengasuh anak kita? Menurut Charlotte Mason, baik child-centered atau parents-centered, keduanya sama-sama kurang tepat. Kita harus mengasuh anak dan mengasuh diri kita sendiri dalam gaya Principal-centered, taat kepada hukum-hukum prinsipil, taat aturan, sesuai dengan ajaran agama dan ajaran bernegara bermasyarakat.