Laras lagi senang menggambar

Setelah sebelumnya senang melukis dengan cat di kanvas, membuat ulang lukisan-lukisan di youtube dengan crayon, sekarang Laras sedang menikmati menggambar tokoh (a girl) di kertas maupun di aplikasi Ibis Paint..

Setiap siang, sore, malam, Laras khusyu menggambar. Tapi kalau ditanya apakah Laras mau les menggambar? Laras bilang tidak mau heu.

Berikut gambar Laras dengan menggunakan tablet samsung:

Laras tekun sekali mengerjakan highlight bagian rambut dan mata.
Ceritanya kucing yang abu-abu itu adalah Igor.

Instrumen Dasar Pendidikan CM: Atmosfer

Instrumen pendidikan ini dibahas dalam buku Charlotte Mason (CM) Volume 6.

Sebelum mengetahui apa itu instrumen CM, mari kita cari tahu dulu apa saja harapan kita terhadap anak. Saya pribadi berharap anak menjadi:

  1. Percaya diri
  2. Berprestasi
  3. Sekolah tinggi di luar negri
  4. Disayangi banyak orang
  5. Sopan
  6. Selamat dunia akhirat

Saya lalu bertanya pada Laras untuk kroscek jawaban tadi. Laras kebetulan sedang duduk menemani saya belajar metode CM.

“Ras, Laras berharap ingin menjadi apa?”

Aku ingin menjadi pahlawan” kata Laras.

Wow ternyata berbeza yah Bun antara harapan anak dengan harapan orang tua. Kalau saja saya jeli, sebenarnya sering sekali Laras menunjukkan ciri-ciri ingin menjadi “pahlawan”. Ia gemar berlatih martial art, gemar sekali main samsak di rumah. Ia juga mengagumi neneknya yang pernah menjadi Atlet Silat Provinsi Jawa Timur.

~~~

Sebagaimana teori yang umum diketahui, anak adalah peniru ulung. Children see, children do. Anak mencerminkan siapa kita. (BENER BGT HUHU). Ternyata kalau kita berharap dari A sampai Z kepada anak, kita berkewajiban untuk mencontohkan hal yang serupa.

Selama ini apakah orang tua sudah bisa mencontohkan apa saja yang diharapkannya terhadap anak? Apakah sebagai orang tua sudah sopan? Apakah orang tua sudah percaya diri? Ibu yang suka ngomel bahkan kadang sambil berteriak itu pertanda tidak percaya diri lho… 😦 Orang tua perlu menjadi seseorang yang ia harapkan pada anak.

Menurut Buku CM Volume 6, instrumen pendidikan anak antara lain:

  1. Atmosfer alamiah
  2. Disiplin terhadap kebiasaan baik
  3. Penyajian ide-ide hidup

Instrumen pendidikan nomor 1 adalah Atmosfer alamiah.

Sebaik-baik atmosfer adalah yang real, yang alami. Segala macam atmosfer buatan dinilai kurang bagus oleh CM. Contoh atmosfer buatan ini seperti:

– Menyatakan hal yang baik-baik saja

– Menampilkan kebaikan yang tidak alami

– Membuat sesuatu serba mudah, serba nikmat, serba seragam.

Menurut buku ini, anak harus disuguhkan dengan kondisi asli, tidak dibuat bagus atau indah atau menyenangkan sepenuhnya. Mengkanak-kanakkan kondisi lingkungan anak, dianggap sama seperti mengkerdilkan anak.

Perhatikan pendidikan anak, apakah orang tua dan guru telah menyusun skala prioritas yang benar? Apa prioritas utama dalam pendidikan? Jikalau ortu salah dalam menentukan ini, hal ini bisa dianggap menindas kepribadian anak. (Baiklah kalau begitu prioritas saya untuk Laras nomor 1 adalah “Budi pekerti/ norma kesopanan”). Hadirkanlah atmosfer ini dengan dibumbui rasa cinta pada anak.

Contoh kasus:

Apabila anak bermain dengan teman yang kurang sopan / bersikap buruk. Bagaimana respon orang tua? Melarang? Membiarkan?

Anak sebaiknya dipantau (dimonitor, diperhatikan, ditemani, diajak dialog) dan dididik supaya tidak ditipu teman. Relasi anak dengan teman, tetangga, keluarga merupakan modal kehidupan yang bagus karena lingkungan tersebut beragam.

Jika teman anak tidak baik, orang tua berperan untuk “mendetoks” yaitu mendampingi setelah anak selesai bermain. Ortu selalu harus melakukan briefing dan evaluasi. Ortu bisa saja tetap membiarkan anak bermain dengan teman yang “buruk”. Jika ortu melarang, hal itu berarti menjadikan lingkungan anak menjadi lingkungan yang artificial (semuanya baik-baik saja). Namun demikian, ortu juga harus menilai sejauh mana pengaruh buruk dari teman anak tersebut dan seberapa sanggup ortu untuk mendetoks. Apabila dirasakan membahayakan, ortu tetap punya otoritas untuk melarang anak berteman. Anak pun harus menunjukkan ketaatan (habit of obedience) terhadap aturan orang tua.

Ortu boleh menciptakan atmosfer untuk pendidikan anak, namun harus ingat hal berikut:

  • Hindari rekayasa
  • Hidup apa adanya
  • Hidup tidak selalu nyaman
  • Anak bisa paham kapan ortu stress
  • Paparkan anak dengan lingkungan alami, jangan biarkan ia hidup di “rumah kaca”
  • Ortu jangan over ekspektasi terhadap anak
  • Anak-anak kecil jangan diberi tanggung jawab, ortu jangan memberi peraturan yang terlalu ketat
  • Anak jangan dibebani dengan pilihan moral sebab anak belum selalu bisa membedakan baik dan buruk

Para praktisi Charlotte Mason pada umumnya memilih anaknya menjalani homeschooling. Di dalam keluarga misalnya, anak dihadapkan dengan kenyataan yang berbeda-beda. Terkadang seorang anak digoda kakaknya, dipuja adiknya, disuruh ikut aturan main ibunya, diajak bercanda oleh ayahnya, dipaksa mengalah oleh adiknya, bergaul dengan ART dan tukang. Ragam interaksi anak bersama keluarga, merupakan pendidikan bagi pribadi anak.

Adapun saya belum percaya diri untuk dapat mendidik anak secara mandiri di rumah. Saya masih memilih jalur sekolah formal.

Ketika kita (saya) mengirim anak ke sekolah, anak beberapa hal yang harus kita perhatikan:

  1. Apakah gurunya terlalu lembek? Atau terlalu cemas? Atau terlalu berambisi? (Yes/No)
  2. Pelajarannya dirasa encer (?) (Yes/No)
  3. Motivasinya semata-mata untuk mendapatkan peringkat? (Yes/No)
  4. Anak-anak kerap jengkel, tegang saat bersekolah? (Yes/No)
  5. Ada overstimulasi? (Yes/No)
  6. Pelajaran terlalu banyak? (Yes/No)
  7. Liburannya cukup? (Yes/No)
  8. Mental anak bagus? (Yes/No)

Sedangkan yang kita inginkan adalah:

– Anak belajar demi mendapatkan ilmu pengetahuan

– Anak bersikap tekun

– Hasrat ingin tahu dan hasrat belajar anak tinggi

Untuk mencapai hal tersebut, paparkanlah anak dengan lingkungan yang apa-adanya. Kenalkan anak dengan hal baik dan hal buruk. Apabila kita biarkan anak terpapar lingkungan yang tidak alami, dikhawatirkan anak bisa menjadi ringkih, tidak kuat menghadapi kegagalan, kurang berkembang, tidak berpengalaman untuk bangkit dari jatuh.

Dalam perkembangannya anak membutuhkan kebersamaan orang dewasa dalam membimbingnya. Sebagai orang tua, kita harus selalu belajar (bertumbuh). Kita dan keluarga (our support system) harus terlibat menemani aktivitas anak. Kita lakukan briefing dan evaluasi keseharian anak. Kita juga berikan contoh (tauladan) pada anak.

#SelfReminder

Back to Jkt, for good

View dari ruang kantor Papi Rul. Tampak Monas di kejauhan.

Mama mertua adalah seorang yang romantis dan selalu optimis. Kalau beliau berdoa, berpengharapan, sering kali beliau sampaikan dengan bahasa yang rinci, berulang-ulang, dan penuh keyakinan. Kadang-kadang saya merasa deg-degan didoain (?), karena kadang apa-apa yang diharap berasa “too good to be true”. Tapi mama selalu punya prasangka baik pada Allah. Bahkan untuk hal-hal yang, sependek pengetahuan saya, di luar logic.

Contoh nyata ketika mama dulu selalu berulang-ulang doain ummi supaya segera naik haji dengan ayah. Saya cuma bisa ketawa karena saya dan ummi sama-sama tahu bahwa pada tahun 2019 ummi akan berangkat sendiri. Adapun nomor porsi haji ayah itu masih lama… masih sekitar sepuluh tahun mendatang.

Dulu ayah dan ummi memang mendaftarnya tidak berbarengan. Saya dan adik-adik masih kuliah/bersekolah saat itu, sehingga keadaan finansial hanya memungkinkan ummi mendaftar sendiri tanpa ayah (ummi bareng dengan bestfriend/saudara ummi). Siapa sangka doa mama mertua dikabulkan Allah. Ayah saya mendadak berangkat haji, gratis, pada tahun 2018, lebih duluan malah daripada ummi. Koq bisa??? Ternyata bisa, atas kemurahan dan kebaikan hati bapak Gubernur (semoga Allah merahmati beliau). Terbukti bahwa logic saya ga nyampe kesini. Malah doa mama yang sampe tembus ke langit.

Libatkan Allah. Langsung mohon aja sama Allah apa-apa yang dimau. Allah yang punya kuasa koq, semuanya mungkin jika Ia berkehendak. Mama kadang ingetin saya akan hal ini, tentunya dengan bahasa yang lembut dan romantis khas mama, tanpa menggurui meskipun saya sangat laik digurui. (#OjoKeminterDehNgana). Berdoa itu ga perlu pake logic pake nalar. Jan sungkan-sungkan minta sama Allah.. Berprasangka baik aja bahwa doa kita pasti dikabulkan, bisa sekarang bisa nanti. Makasih ya mama. Apa jadinya kami tanpa mama huhuhu T.T

Makasih lagiii mama udah ga putus-putus berdoa untuk anak bungsunya (dan makasih buat papa juga yang selalu ceria dan semangat). Sekarang papi pindah berkantor ke… sekitaran Monas, Jakarta Pusat. Masya Allah. God is good all the time. Tiada daya dan upaya kami, melainkan atas kehendakNya, doa orang tua, dan pertolongan teman-teman yang baiknya sudah bagaikan saudara.

Selamat datang di Jakarta, Papi.. ❤

Seneng banget papi euy, berperjalanan naik vespa sepanjang 10 km doang, dengan rute jalan lurusss doang, 20 menitan udah bisa nyampe ke rumah ketemu keluarga. Alhamdulillah ala kulli hal.

view di senja hari
Berkunjung ke kantor papi di hari Sabtu

Self note – Ramadhan 2021

Sore ini sambil menunggu azan Maghrib, saya dengarkan radio RRI Pro 2.. hehehe.. mumpung Laras sedang main dengan sepupu-sepupu ke rumah Nenek sekalian menemani nenek mempersiapkan masakan berbuka. Seandainya Laras sedang ada di rumah, besar kemungkinan ia akan berkata: “Maaf Mi, boleh ganti ke Prambors?”.. hehehe.

Jadi, di RRI ada penceramah yang menceritakan tentang:

Musa bin Imran berkata: “Wahai Tuhan, dimana aku mencariMu?”
Allah menjawab: “Carilah Aku di sisi orang-orang yang hancur hatinya. Sesungguhnya Aku dekat dengan mereka setiap hari (sejarak) satu bâ’ (sekitar dua lengan). Jikalau tidak demikian, mereka pasti roboh (binasa).” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, Kairo: Dar al-Rayyan li al-Turats, 1992, h. 95)

Wah… ternyata.. Allah ada di dekat orang yang broken heart..

Selama pandemi ini, kita saksikan banyak sekali saudara yang struggling.. Berjuang sembuh dari Covid.. Bertahan hidup meski usaha babak belur.. Pergerakan terbatas terhalang Covid.. Selain pandemi, banyak juga diberitakan kejadian sedih lainnya. Misalnya hari ini ada berita tentang tenggelamnya kapal TNI KRI Nanggala 402; statusnya “On Eternal Patrol” 😦 . Indonesia atau bahkan dunia sepertinya broken heart berjamaah..

Teringat kemarin saat sore-sore menunggu berbuka, saya menonton netflix Joanna Lumley’s Japan: episode tiga saat Joanna berkunjung ke Kota Nagasaki. Disana Joanna berdiskusi dengan seorang Bapak-bapak setempat.. Bapak itu merupakan satu dari sedikit orang yang berhasil lolos dari peristiwa bom atom pada tahun 1945 yang sungguh mengerikan dan menyesakkan jiwa. Ia berkata kepada Joanna:

I survived because I was in the shelter. I felt I have a duty to keep living. No matter how hard or sad or painful it is, I have to keep going, keep living.. and teach people how precious peace is.

Demikianlah pesan dari Bapak-bapak Nihonjin dan Bapak Penceramah yang bagus sekali menurut saya. Let’s do our duty well, for God is here with us. Saya coba narasikan melalui tulisan, sebagai pengingat untuk saat ini dan seterusnya.

Hwaiting!

*balik nonton DraKor

*oh sudah azan Maghrib

Hari kedua latihan

Nama ibu : Ezi

Nama anak/umur : Laras / 8 Tahun

Tanggal Habit Training (HT) : 9 Februari 2021

Rumusan HTSolat 3 Waktu (Maghrib, Isya, Subuh)
Proses hari iniMagrib Semalam: OK (Di penghujung waktu)
Isya Semalam: OK
Subuh: OK

Refleksi hari ini:

Sekembalinya mami dari WFO yang dilanjut ngedate sama papi (ngedate nya pergi tes antigen, wkwkwk) sekitar pukul 18.00, mami nunjukin kertas tracker ke Laras. Mami jelasin selama 30 hari mendatang, kita harus isi dengan ceklis Sholat Laras di kertas tracker ini.

Laras anaknya suka seni dan gambar jadi dia tampak antusias dengan desain tracker tsb (Mami comot dari pinterest).

Laras ini umur 8 tahun tapi suka melabeli dirinya dewasa/pre-teenager/not-a-kid-anymore, jadi mami coba pake spidol aja alih-alih pake stiker. Ternyata Laras malah minta pakai tempel stiker di trackernya sebagai penanda good job. �� 🙂

Target malam ini, mami papi fokus bercengkrama sama Laras karena besok papi keluar kota. Well, malam ini papi sambi dengan kegiatan zoom meeting sih.. tapi masih di ruangan yang sama dengan Laras, sehingga masih bisa bercanda-canda dan komentari tingkah laku Laras. Sedangkan mami (tumben) karena ini HT hari ke-1, perhatian mami tercurah buat Laras.

Mami tidak fokus HP/nonton drama/sambi-sambi kegiatan lain (ya masih bisa sih nyuci dan nyetrika dikit). Sejak pulang kantor mami mengawal implementasi tracker Laras: sholat Magrib, sholat Isya (dengan tawar menawar waktu sampai kira-kira 6x perintah solat baru ia kerjakan Isya), suapin makan (demi bonding hehe), dampingin PR, menemani bermain stacking gelas sama kucing-kucing peliharaan kami.

Mami mencurahkan waktu untuk Laras (sedangkan biasanya mami asal-asalan sambil disambi ini itu <intinya main gadget> sehingga Laras pun asal-asalan melakukan tugas). Ajaibnya malam ini semua target tercapai. Dan untuk pertama kali dalam bertahun-tahun ini, Laras solat 5 waktu………. Seperti cetak sejarah.

Selanjutnya mami briefing lagi bahwa besok Laras harus sholat 5 waktu lagi. Laras jawab: “Iya dong Mi.. Ga cuma besok, tapi 30 hari. Eh ga deng.. Sampe seterusnya. Sampe nanti (menjulurkan lidah pura2 kaya is dead)”.

Sebenarnya sore hari tadi, di perjalanan pulang mami diskusi dengan papi apakah target HT kita ketinggian. Meskipun HT nya adalah 3 waktu solat, tapi di trackernya terlanjur dibikin 5 waktu solat. Lalu papi jawab, “Engga ketinggian lah, mudah-mudahan Laras bisa.. Dia aja kan juga minta special reward.” Heuheuheu.

Mami teruskan mendampingi Laras sampe ia lakukan protokol sebelum bobo (sikat gigi, pee, bersihkan badan, ganti baju). Ternyata enak banget kalau solat Isya itu tidak ditunda sampai menjelang tidur, bisa terlanjur kecapean.

Laras mulai rebahan pukul 21.30 dan terlelap pukul 22.00. Ini tergolong cepat juga bobonya, untuk kami kaum nocturnal ini. Mungkin karena ia tadi habis lari-larian juga. Tadi mami pake metode Mba Ellen yang no-talking-and-close-your-eyes-then-count-to-100 untuk menidurkan Laras.

Segera setelah ia lelap, diri ini langsung sambar HP. Seperti “haus” banget butuh me time -_- . Setelah me time, baru mami solat Isya. (Jeng jeng….)

Memang malam ini mami “berkorban” me time, (pending jadwal les Inggris, tidak terapi Aina, abaikan whatsapp) tapi balasannya adalah anak bersikap sangat amat manis, amat kooperatif. Anak look happy and content. Malam ini tidak ada satupun anggota keluarga yang otak reptilnya aktif. Sungguh suatu pencapaian. (Dear my mentor, Mbak Ellen… big thanks.)

Semoga esok hari lebih baik….

Update Sholat Subuh:

Entah karena malam mami minum sebotol moccachino, atau karena terlalu excited, seusai me time sampai pukul 12.00 mami ga bisa tidur sampai pukul 02.00. Kemudian terbangun lagi saat papi pamitan ke bandara pukul 03.00 lalu ga bisa tidur nungguin azan subuh pukul 05.00. Laras bisa ikut bangun Subuh jam 05.00, tapi habis subuh mami ga bisa bonding/berkegiatan sama Laras karena mami tertidur tepar.

Penting untuk diingat:

Jika kita total hadir secara fisik dan emosional untuk anak, anak menanggapi perintah kita dengan sangat baik.

Potensi perbaikan:

  • puas-puasin me time siang hari?
  • mami HT penggunaan gawai
  • pelan-pelan perbaiki kualitas solatnya (tepat waktu, tepat bacaan, dan ga usah pake adegan goyang2 tambahan wkwkwk oh putrikuuu)
  • tidak usah ngoyo juga sih, takut burnt out seperti kata Mba Ellen
  • Beli timer!!

Narasi bacaan pendukung HT hari ini:

Dr. Irwan Prayitno: 24 Jam Bersama Anak

Masalah perkembangan anak, psikoterapi, dan konseling

Dua puluh empat jam bersama anak dimaksudkan agar anak selalu bersama orang dewasa di bawah pengawasan orang tuanya. Beruntung di saat pandemi ini, kita berlimpah waktu bersama anak karena sistem Work from Home. Setiap langkah perkembangan anak, membutuhkan kebersamaan orang dewasa dalam membimbingnya, sama seperti yang disampaikan Charlotte Mason, otak anak belum berkembang sempurna untuk mengambil keputusan-keputusan moral.

Menurut Ibnu Qoyyim, perhatian terhadap akhlak dan budi pekerti anak akan menjauhkan anak dari tindakan yang menyeleweng, marah, keras hati, terburu-buru, memperturutkan hawa nafsu, gegabah dan tamak. Sebab setelah dewasa, kebiasaan ini sulit diperbaiki karena mengakar dalam kepribadiannya.

Panduan Hukuman:

Tujuan singkat hukuman adalah menghentikan tingkah laku yang tidak dikehendaki sehingga tumbuh kesadaran pribadi.

Ciri hukuman:

  1. Konsisten
  2. Pemberiannya tepat waktu
  3. Secara bertahap dari ringan hingga berat
  4. Hukuman tersebut harus disadari anak sebagai hukuman
  5. Hukuman adalah sesuai yang wajar, logis dan objektif.
  6. Tidak membebani mental anak
  7. Hukuman yang diberikan bersesuaian

Jenis hukuman:

  1. Restitusi berarti menyuruh anak mengerjakan sesuatu yang tak menyenangkan
  2. Deprivasi berarti menghentikan dan melarang perbuatan atau tingkah laku yang disenangi anak
  3. Hukuman berarti membebani dengan sesuatu yang menyakitkan atau menyedihkan

Pedoman hukuman:

Anak sebelum diberi hukuman, diberi peringatan dulu tentang hukuman yang diberikan. Ketika hukuman diberikan jangan perhatikan komentar atau perilakunya. Hukuman yang diterapkan sebaiknya singkat dan tepat.

Sholat sebagai habit Laras

Late post

  • Nama ibu : Ezi
  • Nama anak / umur : Laras / 8 tahun
  • Tanggal Habit Training : 8 Februari 2021

Rumusan Habit Training (HT):

Laras menjalankan kewajiban sholat 5 waktu (namun yang menjadi report Habit Training hanya spesifik pada sholat Maghrib, Isya, dan Subuh, karena mami selaku Trainer hanya dapat mengawal Laras secara langsung pada waktu sholat tersebut. Adapun saat sholat Zuhur dan Ashar, otoritas pengawalan Laras diserahkan kepada teteh pengasuh dan/atau Nenek).

Refleksi:

Semalam Laras mengerjakan sholat Maghrib di ujung waktu (menjelang 10 menit waktu habis). Ia sholat berjamaah dengan papi. Adapun ketepatan waktu sholat belum masuk dalam cakupan Habit Training ini.

Semalam Laras sholat Isya sekitar pukul 21.00 (OK)

Laras mulai tidur pukul 21.30 tetapi ia butuh 1 jam sampai 22.30 untuk benar-benar terlelap. Seharusnya ia paling cepat bangun pukul 07.30 karena anak umur 8 tahun harus tidur selama minimal 9 jam per hari.

Mami enggan membangunkannya di waktu Subuh karena merasa kasihan jam tidurnya belum cukup. Mami alihkan penegakan disiplin kepada papi yang kebetulan sedang di rumah.  Papi membangunkan Laras sekitar pukul 06.00-06.30 untuk Subuh dan quality time. Laras happy bahkan protes kenapa tidak dibangunkan lebih awal. Sejak kemarin ia sudah kami briefing tentang training sholat sebagai habit, dan ia menyepakatinya.

Hari ini, mami mempersiapkan kertas tracker untuk sholat 5 waktu.

Yang perlu diperbaiki di proses HT besok:

Tidur lebih awal, pukul 21.30.

Narasi bacaan pendukung HT hari ini:

Prophetic Parenting / Cara Mendidik Anak ala Nabi oleh DR. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid:

  • Pendidikan anak dimulai ketika kedua orang tua menikah, karena pola pikir mereka sangat menentukan kualitas kehidupan keturunannya.
  • Selain itu hubungan kedua orang tua, kesalehan, perilaku orang tua dalam melakukan kebaikan memiliki pengaruh yang kuat dalam membentuk sisi psikis dan kecenderungan anak.
  • Sejak lahir anak harus diliputi segala sesuatu yang memiliki ruh keagamaan.
  • Rumah tangga adalah benteng aqidah Islam. Setiap anggota keluarga berperan untuk menjaga benteng ini. Penting untuk mengetahui apa peran orang tua dan melatih apa saja peran anak.

Fondasi Pendidikan Charlotte Mason (Part 2)

Untuk apa anak bersekolah?

Untuk apa kita mengirimkan anak ke sekolah?

Pada umumnya kita menjawab, supaya anak kelak mendapat ijasah. Ijasah merupakan modalnya supaya ia bisa bekerja, bisa mandiri menghidupi segala kebutuhan dirinya dan keluarganya. Menurut Charlotte Mason, adalah tujuan yang rendah jika kita hanya berharap anak dapat memenuhi kebutuhan materi atau biologis (makan, sandang, papan) saja, layaknya filsafat materalism dan utilitarianism. Semestinya sebagai orang tua kita bisa mengeset goal yang lebih tinggi dan lebih luhur. Sebab jika kita sekedar menginginkan anak kita untuk menjadi seseorang yang mampu bekerja, dengan segala kemampuan teknisnya, ia dapat mudah tergantikan saat ada orang lain dengan kemampuan teknis yang lebih baik.

Seperti yang diucapkan oleh seorang teman:

Pendidikan yang menghilangkan unsur-unsur manusiawi, hanya akan melahirkan pekerja-pekerja yang seperti mesin. Atau mungkin menjadi makhluk yang individualistik yang penuh keegoisan dan keserakahan. Yang tidak mengenal apa itu budi pekerti, apa itu peduli sesama, apa lagi untuk memahami makhluk hidup lain.

http://bundanisrina.blogspot.com/2021/04/refleksi-tentang-manusia-dan-pendidikan.html

Konsep pendidikan yang ditanamkan Charlotte Mason adalah membangun seorang manusia agar dapat menjadi semakin menusiawi melalui penguatan karakter! pembentukan mental!! kebijaksanaan spiritual!!! Anak harus dipandang secara spiritual. Anak mesti dipersiapkan supaya ia dapat menjalankan berbagai peran kelak: misalnya sebagai ibu, sebagai istri, sebagai wanita karir, sebagai anggota masyarakat. Apapun perannya di dalam kehidupan, ia dapat menjalankan dengan baik dan bijaksana, karena setiap anak adalah pribadi yang unik, pribadi yang berharga, berkarakter luhur, dan tidak tergantikan.

Konsep yang salah selama ini adalah Capitalism, Consumerism, Individualism, Meritocracy yaitu seseorang dianggap hanya jika ia memiliki prestasi, dan Utilitarianism yaitu seseorang dianggap hanya jika ia punya kuasa.

Charlotte Mason mengajarkan konsep Magnanimity, (Magnanimity is the virtue of being great of mind and heart. It encompasses, usually, a refusal to be petty, a willingness to face danger, \and actions for noble purposes. Its antithesis is pusillanimity. Wikipedia). Anak diharapkan tahu bagaimana caranya hidup, bisa berimajinasi, bisa menilai baik dan buruk sesuatu hal, tahu menempatkan diri, mampu meningkatkan kebahagiaan dirinya dan sesama.

Berikut saya kutip lagi dari blog seorang kawan:

Di buku CM, seri Philosophy of Education, makna Magnanimity, yaitu:

memiliki imajinasi yang berbudaya, kemampuan menilai dan menimbang yang terlatih, selalu siap menguasai kerumitan profesi apa pun, sementara pada saat yang sama tahu menempatkan dirinya sendiri dan bagaimana memanfaatkan segala kelebihannya untuk meningkatkan kebahagiannya, kebahagiaan sesamanya, dan kesejahteraan masyarakatnya – satu sosok yang bukan cuma bisa mencari nafkah hidup tapi tahu bagaimana caranya hidup.

https://padmanegara.com/2021/04/15/belajar-caranya-hidup-dan-tumbuh-bersama-anak-dengan-charlotte-mason/

Tugas orang tua adalah menentukan kembali kemana arah pendidikan anak kita?

Jawaban saya mungkin:

  • Agamis
  • Penuh rasa ingin tahu
  • Senang belajar
  • Fokus
  • Konsisten
  • Bahagia

Apakah cara yang dipilih orang tua sudah selaras dengan arah yang dituju? Ibarat berlayar, pendidikan anak harus mempersiapkan hal berikut:

  1. Destinasi: Apa tujuan pendidikan?
  2. Peta: Bagaimana paradigma atau cara pandang orang tua terhadap pendidikan dan pengasuhan?
  3. Kompas: prinsip-prinsip kehidupan yang sama-sama ditaati oleh orang tua dan anak

Sebagai orang tua, kita disarankan untuk banyak membaca, banyak mendapatkan input/masukan, banyak berdiskusi, dan apabila bisa, menulislah sebagai reminder untuk stay on track. Upayakanlah banyak hal demi mendapatkan keselarasan antara tujuan pendidikan dengan cara-cara yang akan ditempuh.