Fondasi filosofi pendidikan Charlotte Mason

Di bawah arahan Mba Ayu Primadini

Guru kita, Charlotte Mason, menerbitkan 6 buku.. Volume 1 s.d Volume 6. Bukunya yang ke empat berisikan tentang “mengenali diri, ourselves”, buku kelima tentang “Kasus-kasus seputar pemahaman karakter, formation of character” dan buku ke enam merupakan rangkuman seputar jantung pendidikan “Toward a Philosophy of Education“. Bila ingin mulai membaca buku Charlotte Mason, mulailah dari volume 6 ini.

Buku-buku Charlotte Mason disarikan atau diceritakan kembali oleh Mba Ellen Kristi dalam buku bahasa indonesia yang berjudul “Cinta yang Berpikir”.

Charlotte Mason tidak hanya menjadi guru untuk murid tetapi juga guru untuk para guru. Saat seseorang menemuinya untuk mendapatkan pengajaran, ia berkata: “My dearyou have come here to learn to live”. Jadi bukan hanya tentang bagaimana caranya menjadi guru, atau bagaimana menjadi parent.. tapi tentang bagaimana caranya hidup, itulah yang akan diajarkan oleh Charlotte Mason. Setelah mempelajari ini, harapan kita adalah supaya kelak kita pun dapat mempersiapkan anak supaya tahu bagaimana caranya hidup.

Cara pandang orang tua terhadap anak sangat mempengaruhi gaya parenting ortu. Anak yang dipuja bagai seorang angel (Child-centered), dapat tumbuh menjadi anak yang rapuh, sulit untuk survive, anti kritik. Ia menganggap dirinya pusat dunia. Lambat laun anak-anak seperti ini tumbuh menjadi orang yang self-centered, sulit hidup bermasyarakat.

Anak adalah titipan masyarakat dan titipan Tuhan. Children are born person. Anak merupakan seorang pribadi yang utuh. Ia sudah built-in, sudah sepaket utuh dengan kehendak, pikiran, dan perasaannya sendiri, dengan potensinya untuk berbuat baik dan berbuat buruk. Demikian pula orang tua, lahir sebagai “insan kamil”, pribadi yang utuh. Hal ini membuat anak dan orang tua harus sama-sama tunduk terhadap hukum universal, hukum kebenaran.

Anak yang dididik dalam gaya parenting masa lalu yang dinamakan “Parents-centered/Diktator” dengan ciri-ciri: kehendaknya tidak pernah didengarkan, emosinya tidak diakui, dan orang tua harus selalu ditaati tanpa diberi penjelasan apa alasan dibalik suatu kewajiban, dapat tumbuh menjadi anak yang mudah frustasi dan kurang percaya diri.

Jadi bagaimana kah seharusnya kita mengasuh anak kita? Menurut Charlotte Mason, baik child-centered atau parents-centered, keduanya sama-sama kurang tepat. Kita harus mengasuh anak dan mengasuh diri kita sendiri dalam gaya Principal-centered, taat kepada hukum-hukum prinsipil, taat aturan, sesuai dengan ajaran agama dan ajaran bernegara bermasyarakat.

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s