Merantau (Semua akan pindah pada waktunya)

Tiba-tiba saya ingin menuliskan kenangan saya hidup berpindah kota. Sebagai orang Minang, kami biasa meneruskan tradisi nenek moyang: Merantau. hehe. Selain karena ingin mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik (di pulau Jawa, lapangan kerja lebih luas), kampung halaman saya juga langganan gempa dan masih berpotensi tsunami (nauzubillah, semoga tidak terjadi).

Bukittinggi

Saya numpang lahir di Kota Bukittinggi, sebab disinilah keluarga besar Ibu saya berada. sebagai anak pertama dan cucu pertama, saya dilimpahi kasih sayang dari nenek, buyut, om tante. sungguh indah untuk dikenang alhamdulillah.

Padang

Tujuh belas tahun saya habiskan waktu untuk tinggal bersama orang tua di Kota Padang. Meskipun Padang adalah ibu kota sumatera barat, kotanya sendiri ga banyak berkembang. Padang adalah kota sederhana, saking sederhananya mal cuma ada dua. itupun sebenarnya “mal” dalam tanda kutip, aslinya sekelas plaza. Bioskop 21 baru muncul tahun 2016, bayangkan :D. Tapi entah kenapa saat kami selalu merasa cukup. Ga ada yang namanya sumpek dan haus hiburan.

Bandung

Sejak tahun 2005, saya diantar Ayah dan Om untuk bersekolah di bandung. Rasanya senang sekali bisa tinggal di kota besar, terutama karena kotanya besar namun tak seram seperti jakarta. Saat itu saya masih takut jika sesekali harus ke jakarta, rasanya seperti akan hilang atau tersasar terus-terusan. Beruntung saya punya Om yang tinggal di daerah Bekasi. Om dan Tante baik sekali, selalu dampingin saya jika ada keperluan di Jakarta.

Tinggal di Bandung Utara memang surga. Saya menjadi anak mal! hahaha. BSM yang lokasinya jauh di Bandung Selatan pun saya jabanin meskipun harus naik 3x angkot hahaha. Pas PVJ dibangun, wuih saya merasa ingin kos di salah satu ruang pertokoan di dalamnya. Supaya bangun pagi, langsung ketemu mal. hahahaha. Saya rajin sekali menyambangi PVJ meskipun hanya sekedar nonton film, atau makan di Ta wan. tentunya pake menu mahasiswa: bubur tiga rasa dan es teh manis.  😀

Cimahi

Tahun 2010 saya berniat pindah ke Groningen, Belanda. Tapi apa daya, saya bukanlah dari keluarga kaya. Saya harus menunggu kesempatan beasiswa yang ternyata tak kunjung datang. Mungkin karena setengah hati, di satu sisi hendak melamar beasiswa kesana-kemari, tapi di sisi lain Ibu saya wanti-wanti bahwa beliau menginginkan saya segera bekerja tetap. Sebabnya adalah adik saya akan menyusul saya kuliah di Pulau Jawa, sehingga Ibu akan kesulitan membiayai dua orang anak yang merantau. Mau gak mau saya harus mandiri. Pekerjaan resmi pertama saya adalah di Konsultan CV. Bunaken Jaya, yang berlokasi di Cimahi, kota yang bersebelahan dengan Bandung. Demi menghemat biaya, saya pindah ke Cimahi. Kurang lebih enam bulan saya bekerja disana.

Amurang, Manado

Setelah struggling melamar pekerjaan, akhirnya Puji Syukur saya diterima di perusahaan yang lebih baik daripada perusahaan-perusahaan lain yang dulu menolak saya (hehehe). Sejak September 2010 saya mulai On The Job Training di PT PLN (Persero). Di perusahaan ini, kami berkomitmen untuk siap ditempatkan dimana saja. Ketika teman-teman seangkatan menangis saat mendapatkan SK penempatan di Palembang, di Makassar, saya justru berharap banyak saya ditempatkan di tempat yang jauuuh… Mungkin karena naluri merantau, dan karena satu dan lain hal yang lain (off the record). Jadilah saya ditugaskan untuk menjadi HSE Supervisor di PLTU 2 Sulawesi Utara 2×25 MW.

Saya girang bukan kepalang.

Saat itu pertama kalinya saya Idul Adha di Manado, di daerah yang penduduknya mayoritas kristiani. rasanya syahdu. Belum lagi betapa mudahnya mencapai daerah-daerah yang indah: Bitung, Bunaken, Siladen. Surga buat pecinta snorkeling dan rafting seperti saya. Sejauh ini sampai usia saya 28 tahun, tinggal di Sulawesi Utara adalah kenangan paling manisss yang saya pernah lalui. Sampai bertahun-tahun setelah pindah dari Manado, setiap harinya saya masih saja merasa r-i-n-d-u.

Padang

Pada tahun 2012, hanya tiga bulan saja, saya kembali ke Padang untuk melahirkan, demi bisa didampingi oleh ibu-ayah, nenek, dan adik-adik. dukungan keluarga sangat diperlukan saat kita mengurus bayi, apalagi bayi pertama. pengetahuan saya nol besar. Keluargalah yang berperan mendidik sang newborn mommy.

Kembali ke Amurang

Saya tinggal serumah bersama keluarga kecil, dan sahabat-sahabat rekan kerja kami di PLTU. Saya tetaplah anak mal. Eh, wanita mal? Jadi tiap weekend, kami nongkrong di manado town square atau mega mal, atau bulevard manado. rempongnya membwa stroller bayi tidak terlalu terasa, karena kami dibantu oleh sahabat-sahabat saya, yang bersedia jadi asisten kami selaku papi dan mami newborn yang exhausted namun tetep semangat jalan-jalan.

Jakarta di Tahun 2013

Alhamdulillah saya mendapatkan mertua yang baikkk sekali. Sangat baik. Super. Sehingga saya merasa hommie di Pondok Mertua Indah (sampai sekarang heee :D) Makasih ya Papa Mama. Maaf sering kali merepotkan T.T

Semarang

November 2013, mendadak saya harus pindah ke Semarang, dengan kondisi punya baby usia 1,5 tahun yang masih minum ASI. Saya gagap, gamang, tapi tetap harus ambil keputusan. Papa dan mama mertua mensupport saya, mengantarkan ke Jawa Tengah, daerah yang sama sekali asing buat saya. Mencarikan kos dan day care untuk anak saya. Suami tidak bisa banyak mendampingi karena beliau disibukkan dengan kegiatan barunya sebagai mahasiswa magister di bandung.

Saya hidup di Semarang, berdua laras. tanpa pembantu. hanya day care.

Saya terpaksa mulai menyetir sendiri. tak ada pilihan.

Alhamdulillah fase 10 bulan di Semarang dilalui dengan manisss juga. Bunda-bunda di day care dan teman-teman di kantor baik sekali pada saya. Teman menyiapkan acara perpisahan yang spesial saat saya harus pindah kantor. Saya sedih sekali meninggalkan Semarang, sampai-sampai saya menangis sesenggukan keras sekali di kamar mandi, pada H-1 kepindahan saya.

Thanks for the memories 🙂

Cirata

Saya ditugaskaryakan di anak perusahaan PLN yaitu PJB. Penugasannya sendiri adalah di Badan Pengelola Waduk Cirata, untuk mendampingi PLTA Cirata. Jadi disinilah saya sekarang berada, di Cirata, Kabupaten Bandung Barat. Di satu sisi saya sempet shock ditempatkan disini karena daerahnya terpencil. Bahkan Amurang lebih maju daripada Cirata. Namun di sisi lain saya masih bisa enjoy karena saat weekend saya bisa menjangkau kota Bandung atau kota Jakarta.

Teman-teman kantor Cirata juga rata-rata masih muda. lebih muda dari pada saya, sehingga kadang saya terbawa muda (Apa siiiih) hahaha. Kami suka karaoke, jalan-jalan, bahkan sampe ke Bali dan Karimun Jawa. Semangat jiwa muda! hihihi

Saya menikmati dimana pun saya tinggal. Meskipun dalam hati saya ingin dipulangkan ke rumah saya dan suami di Jakarta, menyekolahkan anak di sekolah yang memuaskan. Jauh lagi di hati terdalam, saya masih ingin merantau ke luar negeri. mudah2an suatu saat kesampaian. dan seperti layaknya ibu saya yang “menyeberangkan” saya ke Pulau seberang, saya pun bercita-cita ingin menyeberangkan anak-anak saya ke Benua seberang. Insya Allah, jika itu demi kehidupan yang lebih baik.

Surabaya, 7 September 2016.

Ezi

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s