Proses melahirkan Laras (Part 2)

Throwback 19 Juni 2012, ketuban saya pecah pukul 13.00 di kamar bersalin RS Restu Ibu kota Padang. Saya tidak merasa sakit. Air bening keluar banyaaak sekali. Mengalir deras. Oke saya bersiap-siap.

Perawat datang untuk rutin mengecek bukaan. Setelah ketuban pecah pukul 13.00, saya berstatus bukaan 1. Selama 5 jam kemudian, mulai terasa sakit seperti disminorea atau sakit PMS, atau sakit seperti saat hari ke-1 mens. Akan tetapi sakitnya tidak rutin. Sakit muncul selang satu jam, berdurasi 5 menit. Jadi masih bisa ditahan. Saat bukaan 4, waktu menunjukkan pukul 18.00. Dokter datang untuk visit. Dia berpesan, kalau status saya udah naik jadi bukaan 6, langsung call dia. Ya Dok.

Mulai magrib ini, baru saya merasakan sakitnya melahirkan. Ini yang namanya kontraksi. Rasanya sakit seperti PMS, tapi berkali-kali lipat. Mungkin awalnya 3 kali lipat. Selanjutnya jadi 5 kali lipat. Durasi kontraksi setengah jam, setengah jam kemudian jeda. Namun makin lama, durasi kontraksi makin panjang, dan jeda nya hanya sebentar sekali. Terasa banget ada yang menyesak masuk ke pinggul bawah saya. Suakitnya minta ampun. Rasannya perut seperti ditarik ditanggalkan dari badan. Rasanya mau copot. Fiuh fiuh.. Ini lah masanya yang diwanti-wanti orang:

  • jangan nyakar (sebelum lahiran udah potong kuku dulu)
  • jangan teriak-teriak
  • jangan ngeden, karena belum waktunya
  • jangan bercarut, heu (no swearing)
  • ingat Allah, zikir yang banyak
  • jangan buang tenaga

Baru kali itu saya merasakan ikhlas. Saya ikhlas meregang nyawa. Jika memang ini prosesnya, saya siap menghadapi kondisi terburuk. FYI, meninggalnya ibu yang melahirkan adalah sama dengan mati syahid. Dan pada saat itu saya ikhlas. Saya lalui perjuangan itu. Sambil tetap berdoa saya dapat lahiran normal, lancar, sehat, selamat dan dipertemukan dengan bayi saya yang sudah sembilan bulan ditunggu.

Proses kontraksi disaksikan empat pasang mata yang hopeless melihat saya kesakitan tapi tak bisa membantu banyak; mata ayah saya, ummi, suami, dan Dini. Sekuat apapun keinginan saya mengingat wanti-wanti di atas. Toh akhirnya saya KO juga. Mata saya basah, saya merintih-rintih pelan. Teler. Dan kombinasinya saya juga sambil marah. Marah sekali sama siapapun saking beratnya menahan sakit. Sepertinya sasaran kemarahan saya adalah suami. Suami mingkem. Dini mencoba mengambil alih bersikap manis membujuk saya; “Tenang Kak.. Kuat-kuat, Kak.” tapi respon saya tak kalah manis; saya tinju berkali2 kasur rumah sakit. Rasanya kesal sekali mendengar suara-suara apapun. Berani-beraninya Dini suruh saya tenang padahal rasanya perut mau copot dan mulas hebat sekali. Ternyata begini efek samping dari latihan taekwondo jaman dulu. Maaf ya Dek -,-.

Pukul 22.00 saya sudah bukaan enam dan perawat bersiap memanggil dokter (on call). Dokternya mungkin sedang di rumahnya sehingga saya harus menunggu. Saya dipindah dari kamar rawat ke kamar bersalin. Ini adalah kamar bersalin sementara, karena yang saya pesan adalah ruang Water birth. Artinya saya nantinya harus dipindah lagi. Saat di kamar bersalin, saya ditemani Ummi dan Suami. Pada saat ini mulai fase berdarah-darah sodara, meski tak banyak. Suami mulai histeris. Beliau teriak “Suster kepalanya sudah tampak, suster kepalanyaaa“. Maksudnya adalah kepala bayi. Hwaaaa.

Level sakitnya? 9 dari skala 10.

Disamping saya sudah ada ibu yang terlebih dulu berada di kamar bersalin tersebut. Jadi saya sambil panik, sambil kesakitan dan kelelahan, pun sambil mendengarkan suara teman senasib yang juga sama-sama “sudah di ujung”. Tapi…. susternya tak mengijinkan saya melahirkan di kamar bersalin sana. Saya didorong lagi masuk ke ruang waterbirth. Kedua kaki saya dikatupkan. Takut bayi keburu keluar padahal saya belum masuk kolam. Argh…. Sesampainya di ruangan waterbirth ada perawat banyak sekali. Ada bidan. Dokter belum ada. Dan air kolam belum terisi cukup. Saya kesakitan hebat di atas ranjang dorong. Bayi ingin keluar, tapi perawat bilang No. “Tunggu ya Bu..“. Arghhhhhh.

Akhirnya air itu terisi dengan cukup di kolam. Saya dipapah masuk kolam air hangat. Satu menit di dalam kolam, saya rasanya mau menyerah saking sakitnya. Bidan ikut masuk kolam. Dokter datang. Dokter ikut masuk kolam. Dokter menatap lekat-lekat jalan lahir, dan SREEEET… Jarinya menyobek jalan lahir tsb. Saya tercekat, tapi sakitnya disobek tak menandingi sakitnya dorongan dari dalam. ARGH!!!!! (sambil mengetik ini saya ikut hah huh hah huh, terbawa suasana, lemes!) Selang berapa menit saya merasakan ada yang keluar. Pop! there’s something popped!

Air kolam jernih. Bening. Tak ada darah. Tapi saya tau ada pup yang sedikit keluar, tak ada yang mewanti saya kalau sebelum melahirkan harus kosongin perut dulu? masih ingatkan kalau sehari sebelum lahiran saya masih sempat jalan-jalan di Universitas Andalas dan makan sate makan kerupuk kuah dan makan lain-lainnya, malaperhan salero?

Eww… saya jijik bayangin kolamnya. Plus kaki bidan dan kaki dokter yang masuk ke kolam. Steril? Plus banyak perawat yang menonton saya, karena tadi mereka sibuk menyiapkan kolam air hangat, menggotong, menyiapkan peralatan, siap-siap menggendong bayi dsb. Saya lahiran di dalam kolam, ditonton orang banyak sekali. Dan akhirnya bayi ini keluar; putih, diliputi rambut-rambut halus dan lemak putih, terlilit tali pusar 1x, dan dia menangis. Laras lahir 19-06-2012 pukul 23.56.

Saya memejamkan mata saking lelahnya. “Ji, alah salasai ji… lah kalua ji.. caliak lah..” Kata Ummi saya. Saya yang basah hanya melihar sekejap sebelum sang bayi diamankan perawat. Badan saya basah kuyup, saya digotong ke atas ranjang dorong. Paha saya disuntik obat bius, dan mereka mulai menjahit jalan lahir. Saya lihat benangnya tapi alhamdulillah saya rasakan efek biusnya. Saya dapat tiga jahitan.

Suami fokus pada bayi. Ummi fokus pada saya. Saya diberi selimut elektrik. Badan yang menggigil akhirnya bisa dapat kehangatan selimut. Ummi ajak saya bicara, pastikan saya tidak tertidur, karena katanya tak boleh tidur sampai dua jam. Ummi mengajak saya berdialog, bersyukur dsb, saya lupa persisnya. Dua jam berselang baru saya boleh memejamkan mata.

Dini hari itu selesai perjuangan saya melahirkan secara normal. Andai tak gunakan waterbirth, insyaAllah saya bisa melahirkan dengan lebih sederhana di atas ranjang.

Pagi hari saya bangun. Perawat bawa bayi saya yang sudah bersih, dibedong hijau, diberi gelang pink bertuliskan Ny. Fauziatul Husna. Saya lihat, aih cantik sekali.. ada tahi lalatnya di bawah dagu kiri. Saya senyum. Saya dekap.

Itu pertama kalinya kami berpelukan. Selamat datang, Flarasya Indira Ardhyan 🙂

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s