Proses melahirkan Laras (Part 1)

Bagaimana sih proses melahirkan Laras?

Sejak pertama kunjungan ke dokter kandungan, dokter memperkirakan Hari Perkiraan Lahir (HPL) anak saya akan jatuh pada 19/20 Juni 2012. Ada rumusnya sendiri untuk perhitungan HPL, bisa dicek disini.

Oleh sebab itu pada usia kehamilan 8,5 bulan saya terbang dari tempat domisili (Manado) ke tempat domisili ibu saya (Padang). Sebenarnya maksimal seorang ibu hamil dibolehkan terbang adalah pada usia kehamilan 32 minggu. Namun saya bisa mengakalinya dengan menyertakan surat keterangan dokter.

Saat menunggu HPL, saya sempat beberapa kali kontrol ke dokter dan ke bidan di Padang. Saya niatkan untuk melahirkan di RS Bersalin Restu Ibu. Saya sempat mengunjungi RS Bersalin lain, tapi dokter kandungan di tempat tersebut tidak pro melahirkan normal. Saya langsung divonis berpanggul kecil, dan harus menjalani sesar. Saya sempat gundah untuk kemudian diyakinkan oleh nenek saya (kontrolnya ditemani nenek, soalnya ortu saya kerja) bahwa saya bisa lahiran normal. Lagian, belum HPL nya kok ya udah dirayu2 sesar sama perawat RSB sana. Dih!

Saya rutin jalan kaki dan pijat di bidan. Pada 17 Juni 2012, suami cuti untuk menemani saya lahiran. Dia datang dari Manado menyusul saya ke Padang. Esok harinya suami menemani jalan-jalan (jalan kaki) di sekitaran kampus Universitas Andalas. Sambil jalan saya puas-puasin makan yang enak-enak.. Sate Padang, Kerupuk Kuah, dll. Saat itu tanda-tanda kontraksi belum kunjung ada….

Kami terus berdoa agar lahiran sesuai HPL. Soalnya, suami tak bisa berlama-lama cuti. Takut cutinya habis, sedangkan bayi belum keluar, heu. Saya prefer lahiran tanggal 20 Juni karena, tanggal cantik (20-06-2012). Tapi suami inginnya tanggal 19 Juni, karena Allah suka angka ganjil katanya.

Tanggal 18 Juni saya sampe solat tahajud. Terus saya ajak Laras bicara, dek ayo keluar… Mami pengen ketemu… papinya udah datang.. hayo keluar ya….

Tanggal 19 Juni 2012, pagi hari pukul 07.30 saya berdiri dari tempat tidur tiba2 ada air bening keluar membasahi lantai, tapi bukan ketuban karena ketuban kan banyak. Air nya keluar sedikit aja, dan ada darah sedikit. Tapi bukan pipis, bukan juga seperti mens. Aneh pokonya.

Saya lapor nenek. “Nah itu lah tando tu ma, pek lah pai wak ka rumah sakik lai.” Kata Nenek saya. Saya gak kesakitan sama sekali. Kontraksi belum ada. Saya langsung ambil packingan lahiran.

Saya, suami, dan nenek pergi ke RS Bersalin naik angkot. Saya duduk di samping Pak Kusir (Pak Supir). Suami dan nenek di belakang. Suami mulai cemas tapi saya senyum-senyum aja. Belum sakit kok!

Saya sampai di RS Bersalin Restu Ibu sekitar pukul 08.30 . Saya diminta berganti pakaian rumah sakit. Bajunya warna ungu, warna kesukaan saya. Mulai sekarang, perawat akan rutin mengontrol kondisi saya setiap jam. Oke, aza aza hwaiting!!

(To be continued to part 2)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s