Maximinimalis

Pi, lihat deh model plafonnya.. sampe ada lima coakan gitu. kaya orang kebanyakan duit.

Hahaha gapapa mi, orang kaya baru! 😀

Jadi ceritanya kami lagi bangun rumah. Setelah lama hidup berpindah-pindah kota, akhirnya diputuskan untuk bangun homebase di Jakarta sahaja. Meskipun kelak masih punya cita-cita untuk menetap di Bandung.

Bangun rumah itu seru lhooo.. dibandingkan beli jadi. Soalnya desainnya sesuai kebutuhan dan kualitasnya terukur. Desainnya dipercayakan pada arsitek, sehingga diperolehlah gambar bangunan dua lantai. Namun ada saat pengerjaannya, diketahui bahwa area plafon cukup tinggi, sehingga dapat dijadikan gudang, studio music, dan satu kamar.

Posisi kk rully sedang di belanda, dan eji di cirata. Untungnya kami punya papa mama yang baik banget. Sebagai pensiunan yang punya lebih banyak waktu luang dibanding aku, mama papa mau membantu manajemen kontruksi aka supervisi pengadaan material dan pengawasan pekerjaan tukang. Apalagi mama papa tentunya sudah banyak pengalaman bangun rumah. Alhamdulillah sangat terbantu. Makasih mama makasih papa.

Pekerjaan pertama dimulai pada Januari 2015. Pada bulan Juli ini, seluruh pekerjaan garis besar sudah selesai dikerjakan. Tinggal finishing. Finishing ini yang seru-seru sedap. Dan cape juga ternyata karena disambi bolak-balik cirata 😀

Keinginan eji dikombinasikan dengan keinginan Kkrul.

Kami beli keramik ke rawasari, di Jl. Percetakan Negara, salah satu sentral keramik Jakarta. Beli keramik itu ga sekali jadi lho.. misal bulan ini survey dulu. Terus dilanjutin sama browsing-browsing. Terus belom tentu juga keramik yang kita pengen, lagi available di pabrik.

Setelah konsultasi dengan Om Tante yang juga habis selesai bangun rumah, browsing, diskusi dll. Baru deh kami memantapkan pilihan untuk nunjuk-nunjuk keramik yang kami pengen. Sebagian ada di pabrik. Sebagian lagi harus inden, atau malah harus diganti model lain.

Berikut detailnya:

  • Bangunan minimalis (lahan kecil), sengaja didesain couple dengan rumah Mbak supaya tampak besar
  • Pagar vertikal lurus minimalis (harga minimalis ceu)
  • Lantai utama granit putih keabuan 60×60 cm
  • Lantai kamar utama vinil motif kayu, coklat terang
  • Lantai tangga parket (kayu), coklat gelap
  • Lantai tiga, seluruhnya pakai keramik standar, putih 40×40 cm
  • Lantai garasi dan balkon keramik BS di Kemenangan Jaya, warna kuning cerah

Dan yang paling disenengin itu adalah mendesain kamar mandi..

  • Kamar mandi lantai 1 warna unguuuu, dengan variasi bunga (kesukaan eji)
  • Kamar mandi lantai 2 warna biru (kesukaan kk rully)
  • Kamar mandi di kamar utama warna granit putih keabuan, dengan variasi lis coklat yang semula peruntukannya untuk step nose tangga. Terlanjur suka XD
  • Untuk dapur, umumnya orang-orang pake mozaik, kami pake keramik motif kotak, warna denim.

Setelah dilihat-dilhat jadi indigo gini ya.. kebanyakan warna putih-ungu-biru-denim. Pokonya udah say no sama warna hijau. Karena seluruh hidupku dihabiskan dengan warna hijau. Rumah orang tua di padang semuanya serba hijau (lantai, korden, pintu, jendela, garasi, tangga, atap. Serba hijau Ya Allah). Aku masuk teknik lingkungan, semuanya printilan hiijau. Sekarang di kantor di divisi lingkungan dan K3, serba hijau lagi. Jadi sebenernya pas papi bilang warna kamar pengen hijau, aku kurang antusias. Ternyata di detik-detik terakhir papi milihnya kamar warna biru sejenis turquoise pekat gitu. Horeeee!

Dinding secara umum warna putih. Gak putih banget sih, ada pilihannya pokonya, kan tinggal tunjuk di palet warna dulux itu.

Kamar yayas mami pilihin warna pink. Pas disuruh milih sendiri, dia juga langsung nunjuk warna pink. Yes.. kita sehati ya kak..

Di bagian area tangga aku kasi variasi ungu muda. Mestinya sih ungu pekat, tapi aku ga terlalu pede ambil warna gelap takut nyamuk atau takut terlalu mendominasi para penghuni lain di rumah (mentang-mentang suka warna ungu, disikat semuanya ungu hehe).

Fasad depan abu gelap, tapi dinding teras dan garasinya sejenis kuning dan salmon gitu. Mudah2an bagus ya!

Aku kirim foto kondisi keramik yang udah terpasang ke papi. Terus aku ceritain ini plafonnya memang aku mau ada banyak coakan gitu, karena kalau hanya dua coakan, berarti plafonnya harus diturunin 20 cm ke bawah, aku ga mau.. ntar rumahnya jadi pendek. Makanya plafon nyesuain sama pola beton aja. Ada lima coakan kalau ga salah.

Aku liatin foto desain plafonnya ke pak tukang. Tanpa dijelasin panjang lebar lagi. Ternyata setelah jadi…..

Eng ing eng… plafonnya berundak-undak hahahahahaha.. soalnya lisnya banyak banget, coakan yang di dalamnya juga dikasih lis. Heboh. Padahal aku maunya plafon sederhana. Seperti drop ceiling, tapi tanpa gap (drop) – untuk menghindari penumpukan debu di area sana. Kalaupun pake lis, lisnya di pinggir doang. Sekarang lis sebanyak itu ga sesuai dengan prinsip budgeting. Mubazir eceuuu..

Jadi ya gitu, plafon kami modelnya ga sejalan dengan model rumah yang minimalis. Kata papi:

“Unik plafonnya mi, tapi in a good way ya” //

“Iya pi aku juga suka sih, tapi surprise aja, ini plafon bener-bener kaya hasil main-mainnya eji deh! Haha.” //

“Ya namain baru aja mi, ini model plafon maximinimalis.” Kata papi gitu. Hahaha.

Advertisements

2 thoughts on “Maximinimalis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s