Nonton Letto (2)

Satu bulan yang lalu, terdapat postingan path yang cukup viral tentang tafsir lagu Letto “Sandaran hati” yang mengisahkan tentang kewajiban muslim untuk sholat. Aku jadi teringat sama Band Letto yang karya-karyanya bagus, namun sayang sudah lama ga terdengar kabarnya. Penasaran, apa sih kegiatan mereka sekarang.

Pic from here: https://rizkysusanty.wordpress.com/2015/04/30/sandaran-hati-letto-lagu-cinta-atau-lagu-religi/
Pic from here: https://rizkysusanty.wordpress.com/2015/04/30/sandaran-hati-letto-lagu-cinta-atau-lagu-religi/

Gayung bersambut.. Tiba-tiba Letto ceritanya lagi “Konser” di acara kantorku hari ini.

Aku sebenernya ga familiar sama wajahnya personil Letto. Jadi sampe dua detik menjelang mereka naik ke panggung, aku masih ga ngeh yang mana personil band nya haha. Sampai aku kenal seorang yang bertopi. Aha! itu vokalisnya yang terkenal sebagai putra Emha Ainun Najib, budayawan Indonesia.

Mereka membuka acara dengan lagu yang dalem banget… “Permintaan hati”..

Ya Tuhan, terpujilah Engkau yang telah menganugerahi kemampuan kesusasteraan yang aduhai dan ciamik pada Letto. Hati siapapun akan tersentuh mendengar lagu Permintaan hati, apalagi kalau cerita lagunya pas sama keadaan. Deuuuu…

Dengarkanlah permintaan hati yang teraniaya sunyi
dan berikanlah arti pada hidupku yang terhempas, yang terlepas..

Selanjutnya lagu kedua, “Sandaran hati”..

Teringat ku teringat, pada janjimu ku terikat
Hanya sekejap ku berdiri, ku lakukan sepenuh hati
Peduli, ku peduli.. siang dan malam yang berganti
Sedihku ini tiada arti, jika kaulah sandaran hati

Selanjutnya Letto membawakan dua lagu bertemakan lingkungan, dan satu lagu daerah yaitu Gundul-gundul Pacul. Noe sang vokalis mengajak penonton untuk tampil menyanyikan lagu daerah Sunda; Manuk dadali.

Letto ternyata sangat interaktif.. karena memang tema penampilan mereka di acara ini adalah Musik Edukasi. Mereka berkisah bahwa dalam satu bulan terakhir mereka berkeliling ke sekolah-sekolah di Tasikmalaya untuk bermusik sekaligus mengedukasi pelajar. Pun untuk penampilannya di acara ini, hal-hal yang bisa aku sarikan sbb:

  • Kita harus menumbuhkan kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari ekosistem yang tak bisa berdiri sendiri, melainkan harus bersinergi dengan alam. Harus menjaga kelestarian alam dapat bentuk yang simpel tapi konkrit.
  • Jangan terburu-buru / terlalu cepat dalam menjalani sesuatu karena kau bisa tergelincir oleh hal sepele atau bisa kehilangan momen indah, yang seharusnya bisa dinikmati dengan lebih santai.
  • Belajar membedakan Pintar, Cerdas, dan Matang (Pengertian ini tanya sendiri ke Letto yaa).
  • Letto mengajak penonton untuk have fun dengan melakukan “Debat Bertanya”. Boleh berdebat dengan melontarkan satu kalimat yang harus berbentuk pertanyaan. haha, yang ini menantang kreativitas banget, dan menghibur!

Lagu selanjutnya… adalah lagu-lagu beken yang membuat kita sing along..  “Ruang rindu”

Mata terpejam dan hati menggumam. Di ruang rindu kita bertemu..

dan lagu penutup.. “Sebelum cahaya”

Ku teringat hati yang bertabur sunyi. Kemana kau pergi, Cinta?
Perjalanan sunyi engkau tempuh sendiri. Kuatkanlah hati, Cinta.
Ingatkan engkau kepada embun pagi bersahaja yang menemanimu sebelum cahaya.. Ingatkan engkau kepada embun yang berhembus mesra, yang kan membelaimu, Cinta..

Lagu ini sangaaat menyentuh, aku jadi berkaca-kaca, karena ingat pada orang tua yang menemani kita sebelum cahaya.. yang membimbing kita selalu dan menguatkan kita, from our zero time till our hero time. (Terima kasih, ayah dan ummi).

Demikianlah konser singkat Letto di kantorku. Sangat interaktif dan menghibur. Btw ternyata vokalisnya ga cuma bisa nyanyi dengan suara lembut dan tipis, tapi juga bisa ngerock ala SID saat bawain lagu gundul-gundul pacul. lengkap dengan adegan buka topi dan head bang. Haha.

Konser usai, kami pun foto bareng, aku minta tanda tangan buat kenang-kenangan di buku agenda, dan makan bareng dengan menu khas Cipeundeuy: Sate Maranggi.

Letto concert made my day. Thank you thank you.

Advertisements

2 thoughts on “Nonton Letto (2)

  1. Sebenarnya, Letto menciptakan banyak lagu yang membebaskan pendengarnya memasukkan obyek yang diinginkan pada lagu-lagu tersebut. Contohnya mamilaras sukses memasukkan sosok Ibu/Ayah pada lagu “Sebelum Cahaya.” Lagu tersebut bisa juga mengingatkan saat-saat sunyi di 2/3 malam, saat seorang hamba merindukan Tuhannya.

    Lalu, lagu “Sandaran Hati” memang sangat cocok dalam konteks ibadah sholat, tapi tidak ada salahnya jika obyek yang kita masukkan adalah sang kekasih hati. (Cihuy…)

    Yang pasti mereka berhasil membuat Bu Admin mojok diruangan memutar lagu-lagu mereka. Meski pertunjukan sudah bubar. Terima kasih ulasannya, mamilaras.wordpress.com. Saya save bookmark yang ini.

  2. Hahahaha jadi malu. Harap maklum karena sampai satu hari sesudahnya saya masih euforia “nonton Letto”. haha.

    Benar Pak Haris, tak dapat dipungkiri bahwa sasaran utama lagu-lagu Letto adalah anak muda yang tentunya sangat tertarik dengan tema percintaan.

    Disanalah hebatnya Letto ya, ternyata lagunya bisa multitafsir, dan untungnya multitafsir ke hal-hal positif. (Jadi lupa sejenak bahwa kita adalah penggemar SID juga, wkwkwk). Btw, thanks ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s